Rezim: Sebuah Bangunan (Tak Lagi) Menjadi Rumah


Sebuah bangunan, dalam pengertiannya baik secara harfiah maupun ketika menjadi simbolik, semestinya mampu menjadi rumah bagi apa saja. Menjadi ruang, menjadi waktu, menjadi apa pun yang memberi rasa aman serta nyaman bagi apa dan siapa saja yang berdiam di dalamnya. Lalu bagaimana jadinya ketika bangunan itu tak lagi menjadi rumah?

Rezim, sebuah naskah yang (barangkali) tak pernah dituliskan oleh Nanaq da Kansas sebagai pencipta karya menghadirkan suasana tersebut dalam Parade Teater se-Bali 2011, Sabtu (10/9). Berbagai luapan emosi: amarah, kecintaan, kerinduan, kebencian, tumpang tindih dan berbaur, bahkan terkesan sangat absurd karena ketiadaan dialog sama sekali. Setidaknya, begitulah ingatan saya ketika menyaksikan pementasan Rezim oleh Bali Eksperimental Teater (BET) yang didirikan Nanoq pada tahun 1993 di Negara, Jembrana-Bali.

Batasan pengertian “rezim” dalam pementasan ini bisa saja adalah serangkaian peraturan, baik formal (konstitusi) dan informal (hukum adat, norma-norma budaya atau sosial, dll) yang mengatur pelaksanaan suatu pemerintahan dan interaksinya dengan masyarakat. Secara teoretis, “Rezim” dalam pementasan ini tidak mengandung implikasi apa pun tentang pemerintahan tertentu yang dirujuknya. Sebab, pada dasarnya, rezim adalah sebuah istilah yang netral, walaupun istilah ini sering juga digunakan dalam budaya populer dengan pengertian negatif atau menghina sebagai rujukan kepada pemerintah yang dianggap menindas dan tidak demokratis.

Pertunjukan diawali dengan senandung lagu Indonesia Pusaka oleh seorang perempuan yang menimang sapu lidi dari belakang kerumunan penonton di kejauhan. Nadanya getir, bahkan mengundang reaksi orang-orang yang menyebar diantara penonton. Mereka, orang-orang itu, perlahan terpancing untuk turut melagukannya. Masih dengan kegetiran yang sama, perlahan mereka bangkit, kemudian berkerumun di belakang Lisna Effendi, perempuan itu.

Letupan-letupan emosi dimulai ketika orang-orang itu mulai mengubur sapu lidi dengan tumpukan batako yang banyak ada di sekitar panggung. Kemudian, ledakan pun terdengar. Perempuan itu kembali bernyanyi, kali ini lebih merupakan senandung. Mengaduk-aduk setiap pertarungan-pertarungan dan konflik yang mengada dalam sebuah wajan aluminium. Ya, wajan itu tak lebih sebagai konstruksi, juga bangunan yang dibuat sebagai panggung, tak lebih adalah konstruksi. Hanya konstruksi, ia tak berhasil menjadi rumah!

Tiba-tiba perempuan itu meringis. Ia berteriak! Seorang lelaki terlahir lahir dari rahimnya. Sementara di belakangnya, lelaki lain telah bersiaga dengan sebilah pedang. Garang, lelaki itu menusuk, mencabik setiap apa pun yang ada di sekitarnya.

Secara umum, apa yang ditampilkan BET dalam Parade Teater se Bali 2011 tidaklah banyak mengalami perubahan, kecuali sedikit tambal sulam di beberapa bagian, entah itu penggunaan properti maupun babakan-babakan adegan dalam visualisasinya. Meski masih “setia” menggunakan telur, tali, dan pedang sebagai media bermainnya dalam Rezim, kali ini Nanoq juga menggunakan kelapa-kelapa kering yang digantung dan lebih menyerupai kepala manusia, (yang barangkali) sebagai simbol manusia dan kemanusiaan yang berada dalam wilayah ketertindasan. Tidak hanya itu, Nanoq juga menggunakan lelakut (orang-orangan sawah –pen), beras, jagung, dan air dalam pertunjukannya kali ini.

Mencekam
Suasana sunyi yang mencekam memang mendominasi pertunjukan malam itu. Salah seorang penonton, Sista Nirmala dalam sebuah komentarnya di facebook mengaku merinding menyaksikan Rezim yang dimainkan Lisna Effendi dan warga dusun senja. Selain itu, kebosanan yang berkepanjangan juga melanda para penonton pada adegan-adegan awal.

Menurut Nanoq, ia memang sengaja menciptakan kebosanan sebagai representasi Rezim. Itu juga merupakan letupan emosi yang memang diinginkannya sebagai sutradara, selain ketercekaman, kesunyian, amarah, termasuk juga rasa paling purba dalam kehidupan manusia; cinta.

Tumpukan-tumpukan rasa inilah yang sebenarnya ada dalam sebuah rezim, mengada di kehidupan dan keseharian kita sebagai seorang manusia dalam sebuah peradaban. Yang membuat perbedaan hanyalah, bagian rasa yang mana yang akan mendominasi ketika bernaung di bawahnya, hanya kita yang mampu memosisikannya. Semuanya dikembalikan kepada penonton, kepada kita semua. Apakah yang akan kita pilih ketika sebuah bangunan tak lagi menjadi rumah?

Lagu Padamu Negeri terdengar. Orang-orang bergegas, berusaha merobohkan bangunan. Lampu padam. Itu saja!

0 komentar:

Posting Komentar

 
Diberdayakan oleh Blogger.