Multikulturalisme Ayu Laksmi


Ayu Laksmi dan grupnya, Svara Semesta, dipilih mewakili Indonesia dalam International World Ethnic Music Festival yang diselenggarakan pada tanggal 25 dan 26 November di Panggung Terbuka Ardha Candra, Art Center. Mereka tidak sendiri. Dalam kegiatan yang merupakan salah satu rangkaian World Culture Forum 2013 tersebut, Ayu Laksmi-Svara Semesta juga akan oleh diperkuat Magic Finger Balawan.

Keberadaan Ayu Laksmi-Svara Semesta memang tidak perlu diragukan lagi. Meskipun masih terhitung begitu muda, Ayu Laksmi-Svara Semesta telah mampu menjadi magnet dengan ciri khasnya yang kental.

Sejak terbentuk pada penghujung tahun 2010 silam, Svara Semesta yang digerakkan Ayu Laksmi telah berhasil membuktikan diri sebagai salah satu kekuatan dalam khasah world music. Tidak hanya di tanah air, melainkan juga dalam pergaulan internasional.

Ayu Laksmi menjelaskan, tidak hanya Svara Semesta saja yang akan mengawal dirinya dalam pertunjukan itu. Beberapa maestro musik tradisi nusantara menyertainya pula, seperti I Made Subandi, I Ketut Lanus, Sutendri Yusuf, dan Saat Borneo (Mochammad Saat Syah), termasuk Magic Finger Balawan.

Seperti diketahui, Balawan adalah seorang gitaris yang sangat berbakat dengan gaya permainan yang sangat khas, yang di kenal dengan teknik “Touch Tapping Style”. Sebuah permainan yang memanfaatkan ke delapan jari untuk memainkan tap pada fretboard. Sekilas permainan ini terlihat seperti permainan piano: permainan bass, chord dan melody, semuanya dimainkan jari kiri dan jari kanan, nyaris tanpa dipetik.

“Konsep berkesenian kami (Ayu Laksmi-Svara Semesta) adalah membuka dan memberi ruang bagi siapa saja, dan tentu sungguh membahagiakan. Ini merupakan hadiah yang begitu megah dari Sang Maha karena kebetulan di saat penyelenggaraan festival ini, saya genap berusia 46 tahun. Terpilihnya kami mewakili Indonesia dalam kegiatan ini juga menjadi hadiah bagi grup Svara Semesta yang menginjak usia tiga tahun,” ucapnya.

Beberapa karya original Ayu Laksmi yang terangkum dalam album musikal Svara Semesta akan dinyanyikan dalam event tersebut. Selain itu, mereka juga akan memainkan komposisi ciptaan Balawan yang begitu kental dengan nuansa Bali dinamis.

Multikultur
Meskipun secara hitungan usia Svara Semesta masih terbilang begitu muda, namun secara kualitas, kelompok ini sungguh bertolak belakang. Svara Semesta merupakan komunitas kreatif yang selama ini mengisi dinamika berkesenian di Bali. Hampir seluruhnya merupakan orang-orang yang kompeten di bidangnya. Mereka memiliki ciri dan karakteristik yang khas yang mampu memberi warna dan keberagaman dalam musikalitas.

Ayu Laksmi rupanya mampu mengikat mereka dengan berbagai perbedaan dan keberagaman tersebut. Hal ini tentu tak lepas dari sosoknya yang multikultur. Ia sungguh terbuka akan keragaman seni dan kesenian yang beragam. Dengan demikian, bukanlah sesuatu yang baru jika mereka selalu menyajikan sebuah pertunjukan yang segar dan dalam, dengan dinamika yang terjaga. Mereka terbiasa memadukan berbagai bentuk kesenian: musik, sastra (puisi), teater, tari, dalam satu pertunjukan sederhana yang jalin-menjalin, saling rangkai, utuh, dan padu.

Dalam karya-karya originalnya, secara tak langsung, Ayu Laksmi menegaskan pilihan dan sikap hidupnya tersebut. Ia menciptakan komposisi yang sungguh mencerminkan ke-bhinneka-an dalam dirinya, yang diramunya secara sederhana.

Kesederhanaan memang begitu terasa: entah itu secara lirik maupun musikalitas atau kekuatan bunyi. Namun, ia berani menyampaikan kisah dalam musik dan lagu dengan menabrak barikade dan aturan yang berlaku secara umum. Dengan kejujuran, keluguan, kesederhanaan, dan penjelajahan tanpa batas itulah, Ayu Laksmi akhirnya bisa benar-benar mewakili imaginasi dan khayalan manusia yang memang tanpa batas.

Karya musikal yang terangkum dalam album Svara Semesta ini merupakan ruang kontemplatif bagi dirinya sendiri. Dalam ruang itu ada pergulatan, ada kerinduan, ada keindahan, juga ada perbedaan. Dengan demikian, bisa dikatakan bahwa Svara Semesta merupakan renungan terdalam Ayu Laksmi tentang perjalanan hidupnya.

“Hidup ini mengagumkan, dan selalu mengagumkan. Kita tidak pernah tahu apa yang akan diberikan semesta kepada kita. Maka, saya hanya ingin menjalaninya dengan sederhana dan bahagia. Itu saja,” pungkasnya.

Membincang Indonesia Lewat Svara Semesta

Svara Semesta adalah ruang imaji Ayu Laksmi tentang Indonesia. Melalui album musikal inilah ia ingin mengkomunikasikannya.

Banyak cara yang dapat digunakan sebagai bahasa. Bagi seorang seniman, karya seni menjadi pilihan utama. Goresan dalam sebuah lukisan, pilihan sentuhan dan nada, hingga gerak tubuh, juga merupakan bahasa yang tak berbatas dan mampu menembus makna-makna kata.

Bagi Ayu Laksmi, Svara Semesta merupakan salah satu pilihan cara untuk berbahasa, mengkomunikasikan gagasan serta doa dan pengharapan. Ia berbicara tentang cinta, tentang keberagaman: tentang Indonesia.

Sebagai bangsa yang kaya, Indonesia menyajikan ruang eksplorasi yang tak terhingga, sumber inspirasi yang tak habis digali bagi siapa saja. Setiap inspirasi, pada akhirnya pula akan melahirkan inspirasi baru. Selalu demikian. Maka, tidaklah mengherankan jika karya-karyanya tersebut diposisikan sebagai cermin ke-Indonesia-an itu sendiri.

Berkali-kali sudah Ayu Laksmi membawa Indonesia ke berbagai negara di belahan dunia seperti Amerika, Belgia, Belanda, Jerman, dan Swedia, baik dalam rangka memenuhi undangan pentas festival maupun acara kenegaraan. Pada perayaan kemerdekaan Republik Indonesia ke 68 tahun ini, ia juga diundang tampil di Stockholm, Swedia. Bahkan, Dubes Indonesia untuk Swedia juga menggelar acara khusus bagi dirinya untuk menyuarakan kidung cinta kasih Svara Semesta sebagai rangkaian perayaan tersebut.

“Tentu saja suasana perayaannya jauh berbeda, ya. Terasa lebih khidmat. Tapi ini wajar. Setiap orang selalu merindukan rumah, merindukan asal, apalagi jika berada di tempat yang jauh. Indonesia adalah rumah bagi setiap warga negaranya,” katanya, seraya menambahkan ia juga terlibat dalam Gaung Garuda 2013 beberapa waktu lalu di Hannover, Jerman.

Bagi Laksmi, mencintai Indonesia tidak hanya soal besar kecilnya kebanggaan atas apa yang dimiliki, melainkan tentang bagaimana cara memberi pembobotan terhadap kekayaan itu sendiri. Ia selalu bermimpi, Indonesia bisa menjadi besar di mata dunia oleh kesenian kontemporer. Indonesia telah banyak melahirkan seniman yang mumpuni di jalur kreatifnya masing-masing dan menawarkan “rasa Indonesia” dengan caranya masing-masing. “Karena itu, saya rasa mimpi ini tidaklah berlebihan, bahkan wajib untuk diperjuangkan bersama-sama,” lanjutnya.

Indonesia memang terasa kental dalam karya seni kontemporer Ayu Laksmi. Banyak lirik lagunya yang terinspirasi dari kearifan lokal Indonesia. Demikian pula dengan pilihan dan sentuhan yang diberikan dalam komposisi musiknya, juga banyak berbicara tentang keragaman. Ayu Laksmi melahirkan lagu dalam nuansa Hindu, Islam, Buddha, Kristen, dalam kesederhanaan, namun lebih menyasar pada kedalaman makna: hening cinta. Tiada sekat, tanpa batasan. Melalui karyanya, Laksmi seolah mengajak pendengarnya untuk melepas sekat-sekat yang tercipta tanpa sengaja oleh perbedaan untuk menciptakan harmoni kehidupan, yang dimulai dari harmoni dalam diri sendiri. “Bhinneka Tunggal Ika, berbeda-beda tetapi tetap satu jua,” pungkasnya.

Svara Semesta: Suara Cinta yang Sederhana

Bahwa segala-galanya, pada akhirnya, kembali pada titik mula dalam setiap langkah proses menjalani sekaligus merayakan hidup: kesederhanaan.

Ada yang mengemuka dari album Svara Semesta yang merangkum karya-karya musikal Ayu Laksmi. Jika melihat pemilihan tema lagu, penggunaan lirik, hingga musikalitas yang melingkarinya, seluruhnya adalah bagian-bagian yang melahirkan kesederhanaan.

Tentu, kesederhanaan suara-suara cinta kasih Svara Semesta merupakan hasil proses penempaan pengembaraan batin Laksmi dalam hidupnya. Pengalaman telah menempanya sebagai pribadi yang senantiasa berserah dan menerima segala kondisi sebagai jalan hidup yang tak mesti ditolak. Nampaknya, jalan hidup yang dilaluinya sangat mempengaruhi karya-karya yang dilahirkannya.

Kesederhanaan hidup dan musikalitas Laksmi bisa disimak dalam Reinkarnasi (kehidupan pasca kematian), sebuah lagu berbahasa Bali tentang sebuah perayaan atas suatu peristiwa. Lagu Reinkarnasi adalah gambaran keikhlasan Laksmi dalam menerima apa saja.

…………………..
punika uger uripe
atma jiwane mangumbara
tan sida antuk nemitang

Hidup adalah perayaan, pun kematian, juga merupakan perayaan: bahwa ketika hadir kita tak pernah benar-benar ada. Pula saat pergi, kita tidaklah pernah sungguh hilang. Seluruhnya hanyalah proses untuk mendekati kesempurnaan. Dibantu Dayu Ani untuk lirik, Reinkarnasi ditulis dengan diksi sederhana namun membentangkan keluasan makna. Tidak hanya menggambarkan keyakinan hidupnya, lagu ini pun diterjemahkan secara musikalitas secara sederhana dalam dimensi perayaan, serta bisa dibangun hanya dengan alat musik pukul atau bahkan tepukan tangan saja.

Kolaboratif
Lagu Reinkarnasi hanyalah salah satu contoh kesederhanaan yang mengemuka dalam album Svara Semesta. Di lagu lain seperti Maha Asa atau Wirama Totaka, Laksmi hanya menggunakan 1 (satu) chord saja untuk membangun dan menyampaikan pesan cinta kasih yang dititipkan lewat karya-karyanya tersebut.

Kesederhanaan yang sengaja ditanamkan Laksmi tanpa mengabaikan inti dan nafas yang menghidupi karyanya tersebut tentu membuka ruang kolaborasi yang sangat luas bagi siapa saja. Entah dari kalangan musisi, dari seniman dengan latar berkesenian yang berbeda semisal tari, teater, ataupun penyair, bahkan dari masyarakat umum. Kekuatan dalam kesederhanaan tema, lirik dan musikalitas, ditanamkan sebagai upaya sadar untuk merangkul tanpa batas. Kolaborasi dialogis semacam ini pun telah berkali-kali terjadi, dan terbukti dapat menyatu dalam satu garapan pementasan yang menarik dan atraktif. Hal ini juga mencerminkan mulitikuralisme yang tumbuh dalam diri Laksmi.

Laksmi meyakini segala-galanya, pada akhirnya, kembali pada titik mula dalam setiap langkah proses menjalani sekaligus merayakan hidup: kesederhanaan. Dengan kesederhanaan yang dimilikinya pula, Laksmi telah menyuarakan cinta melalui Svara Semesta.


English Version

Svara Semesta: Simple Voice of Love

Everything will finally return to the starting point in each step of the process of going through and celebrating life: simplicity.

There are something emerge In the Svara Semesta album that compiles Ayu Laksmi’s musical works. Looking at the theme song chosen, the lyrics, and the music, all of these parts express the simplicity.

Of course, the simplicity of the love voice of Svara Semesta is the result of Ayu Laksmi’s spiritual odyssey in her life. Experience has always forged her to accept all conditions as a way of life that should not be rejected. It seems that the life path she takes, influence the artworks she has created.

Ayu Laksmi’s simplicity of life and her music can be listened in Reinkarnasi (life after the death), a Balinesse song which is about a celebration of an event. Reinkarnasi is an image of Laksmi’s sincerity in accepting everything given to her.

………………………………………………………….
Punika uger uripe (That is how life goes on)
Atma jiwane mangumbara (Our soul roams around)
Tan sida antuk nemitang (Let it go)

Life is a celebration, and so is the death: that when we are present, we can never exactly exist. And when we go away, we are not trully gone. The whole process is just to get close to perfection. Assisted by Dayu Ani in the lyric, Reinkarnasi was written in simple diction, but it provides a wide meaning. This song does not only describe her beliefs, but also is translated in simple musical celebration dimensions. This song is also built only by percussion, or even just clapping hands.

Collaborative
The Reinkarnasi song is just one of the example of simplicity raised in the album of Svara Semesta. On the other tracks such as Maha Asa and Wirama Totaka, Laksmi uses only one chord to build the music and deliver the message of love.

Simplicity which is purposely inculcated by Laksmi without neglecting the core that animates her artwork, it will open a very wide collaboration space for anyone; for some musicians, or for artists with different art background such as dance, theater, or a poet, even for the public. The simple themes, lyrics, and music are the strength to embrace the infinite. Such dialogic collaboration has happened many times, and it can show the interesting and attractive performance. It also reflects the multicultural side of Ayu Laksmi.

Laksmi believes that everything will finally return to the starting point in each step of the process of going through and celebrating life: simplicity. And also with her simplicity, Laksmi has voiced her love through Svara Semesta.

Translated by: Putu Masayu

Satukan Cinta untuk Dunia

Segala yang bermula, berakhir jua pada cinta. Cinta, hadir dan mengalir, serupa aliran jernih yang membawa kebebasan nurani untuk meneguhkan kemanusiaan. Ketika agama, suku bangsa, bahasa, maupun berbagai keberagaman masih menimbulkan pergesekan-pergesekan, maka cintalah yang akan menyatukan.

Memahami cinta serupa memahami hidup dan kehidupan, manusia dan kemanusiaannya. Ia adalah ruang jelajah yang maha luas, persilangan absurditas dan kesederhanaan. Kepedulian adalah cinta, kebencian adalah cinta, kekhawatiran adalah cinta: menggugah kesadaran akan kebersamaan dan membangun daya hidup dalam semesta kehidupan. Maka, cintalah yang membuat diri betah untuk sesekali bertahan (mengutip Umbu Landu Paranggi dalam sajak Melodia).

Berdasarkan pemahaman tersebut, Ayu Laksmi menggagas gerakan seni tradisi-kontemporer yang bertajuk Satukan Cinta untuk Dunia. Inilah bentuk cinta Ayu Laksmi setelah menggelar dan turut berpartisipasi aktif dalam kegiatan kemanusiaan seperti Bali for the World, Gema Perdamaian, Doa Bali untuk Indonesia, Pray for Japan, hingga Bakti Sosial Penyembuhan Spiritual Indonesia, 1 Giant Mind, dan I’m an Angel.

Satukan Cinta untuk Dunia sebagai bentuk pengagungan atas nama cinta kasih sayang merupakan sebentuk upaya untuk mengembalikan kesejatian makna cinta pada kedudukan yang mulia: meretas sekat dan pergesekan-pergesekan oleh perbedaan yang merupakan keniscayaan lahiriah dan batiniah, sekaligus melebur berbagai perbedaan untuk melahirkan harmoni masa lalu, hari ini, dan esok nanti.

Konsisten
Betapa pentingnya gerakan cinta semacam ini bagi Laksmi. Dunia, dalam hitungan waktu terakhir, menemui tantangannya sendiri yang berpeluang menumbuhkan cinta dalam dimensi gelapnya. Tingginya egoisme yang berujung pada ketidakpedulian terhadap sesama selama ini demikian mudah ditemukan. Maka, bukanlah sekedar wacana jika kemudian Laksmi konsisten memperjuangkan gerakan yang digagasnya tersebut. Laksmi percaya, jalan-jalan kesenian mampu mempertemukan hal-hal yang (barangkali) tak bisa dipertemukan, menyatukan sesuatu yang (barangkali) tak bisa disatukan.

Usai menyelenggarakan Satukan Cinta untuk Dunia di Bentara Budaya Bali pada bulan Maret dan di Halaman TVRI Yogya pada bulan Juli 2012, kini Laksmi tengah menjelajah Eropa, seperti Belgia dan Belanda, untuk menggemakan gerakannya tersebut. Meski harus diakui saat ini Laksmi masih saja kewalahan mencari dukungan finansial terutama dari Pemerintah Indonesia, kondisi tersebut tak sedikit pun menyurutkan niatnya. Laksmi tetap melangkah. Ia tak lelah menjalin hubungan harmonis dengan masyarakat di seluruh belahan dunia untuk menebar cinta kasih dan kebahagiaan melalui karya-karyanya (Svara Semesta), sebagai penghormatan atas hidup dan kehidupan. Seperti cinta diberikan dunia bagi Bali, bagi Indonesia, bagi kehidupan kita.


English Version


Unite Love for the World

All the beginning will finally end in love. Love comes and flows as a clear stream which brings our heart into freedom to strengthen the humanity. When religions, human race, languages, and all the differences bring frictions, it is love which unites us.

Mastering the love is like mastering the life and living beings, human and their humanity. Love is a huge space to explore, the combination of absurdity and simplicity. Care is love, hatred is love, and anxiety is love: awakening awareness of being together and building the energy of life in living universe. Maka, cintalah yang membuat diri betah untuk sesekali bertahan (So, it is love that makes us endure to hold out for a while (taken from Umbu Landu Paranggi’s Poem, Melodia))

Based on this understanding, Ayu Laksmi initiated the contemporary traditional art entitled Unite the Love for the World. These are how Ayu Laksmi shows her love by conducting as well as participating in some social events like Bali for the World, Gema Perdamaian (The Echo of Peace), Doa Bali untuk Indonesia (Bali Prayer for Indonesia), Pray for Japan, Bakti Sosial Penyembuhan Spiritual Indonesia (Social Event in the form of Social Treatment for Indonesia), 1 Giant Mind, and I’m an Angel.

Unite Love for the World is the form of glorification in the name of love and compassion is a way to return the meaning of true love into a noble place: breaking through the gaps and frictions because of the differences which constitutes the absoluteness the inner self and outer world, as well as dissolving the diversity to create a harmony of the past, present, and future.

Consistent
This kind of love movement is really important for Laksmi. Recently, the world has met its own challenge which gives a chance to grow the love in its dark dimension. Selfishness that leads to the carelessness towards others is so easy to find. Thus, it is not only expression in the form of words that Ayu Laksmi is becoming very consistent in struggling for the action of love she has iniciated. Laksmi believes that arts can bring everything that cannot (probably) be met, unite everything that cannot (probably) be united.

After conducting “Unite the Love for the World” at Bentara Budaya Bali in March and at the yard of TVRI Yogya in July 2012, now Laksmi is going around Europe, like Belgium and Holland, to promote her movements of love. Although, it is still hard for Ayu Laksmi to get financial support from Indonesian Government, she never gives up. She keep on moving. She always tries to maintain the harmony with all people around the world to spread out the love and happiness through her artworks (Svara Semesta), as a tribute to life and living. It is like the love given by the world for Bali, for Indonesia, and for our life.

Translated by: Putu Masayu

Satukan Cinta untuk Dunia: Mengenang Jepang, Menghormati Tradisi Lokal

Mantra suci “Om”, menggema merasuk ke kedalaman. Dalam mantra itulah sesungguhnya, cinta telah hadir dan mengalir, memasuki segala ruang di dalam kesemestaan, di dalam dan di luar diri kita.

Riuh penonton yang memadati areal Bentara Budaya Bali, Minggu (11/3) mendadak senyap ketika mantra “Om” menggema. Sayup saja, tapi nampaknya berhasil membuat sunyi seketika. Lalu pekik terdengar di kejauhan, di suatu arah yang entah. Di tengah kesenyapan itu, taiko –alat musik khas Jepang dipukul bertalu-talu, membentuk irama yang ritmis, berpadu dengan perkusi dan drum.

Demikianlah Satukan Cinta untuk Dunia yang digelar oleh Bali Artist Association dalam rangka mengenang 1 tahun tsunami Jepang bermula. Kidung Maria mengalir, lalu dilanjutkan dengan lagu Om Mani Padme Hum, Breathing, Maha Asa, Wirama Totaka, Furusato, dan Reinkarnasi. Selain Furusato, seluruhnya adalah karya Ayu Laksmi, seniman asal Singaraja yang dikenal sebagai pelantun lagu-lagu yang menyuarakan cinta kasih dan keteduhan jiwa.

Satukan Cinta untuk Dunia yang digagas Ayu Laksmi dan didukung oleh band Svara Semesta, Ketut Riwin, Rio Sidik, dan Helga Sedli (musisi), Cok Sawitri (penyair), Nyoman Sura, Jasmine Okubo, Ana Anandi (penari), Komunitas Teater Bali, hingga Lembaga Pendidikan Nihon-go Honshuu Jugyoukou dan Puri Agung Dharma Giri Utama, merupakan sebuah komposisi yang menggabungkan unsur musik, teater, tarian, dan sastra dalam satu pertunjukan artistik kreatif. Maka jadilah ia sebuah sajian kolosal menarik penuh makna, menggabungkan budaya Bali-Jepang, yang diikat dalam konsep Panca Maha Bhuta, 5 unsur yang membentuk kesemestaan: tanah, air, angin, api, dan akasa (kehampaan).

Banyak yang percaya, diri manusia memiliki unsur yang sama dengan alam semesta. Maka, memahami dan mencintai kesemestaan adalah upaya untuk memahami, mencintai dan menghargai, jauh di kedalaman diri. “Acara ini secara khusus memang didedikasikan untuk mengenang 1 tahun tsunami Jepang. Namun dalam skala yang lebih luas, kami ingin menebar cinta kasih ke seluruh penjuru bumi melalui persembahan karya seni,” jelas Laksmi.


Ia percaya, ketika cinta telah mengada di dalam diri, praktis akan memberikan energi yang positif bagi apa dan siapa saja. Karena itulah, menebar cinta yang disimbolkan dengan mengirim surat melalui 5 unsur pembentuk kesemestaan, dalam kesejatiannya, adalah menanam cinta bagi diri sendiri, bagi seluruh orang yang hadir dalam acara tersebut.

Dan benarlah, apa yang dipresentasikan dalam pertunjukan tersebut merupakan sebuah simbolisasi cinta bagi siapa saja. Barangkali tanpa disadari, acara tersebut sesungguhnya dibangun oleh seluruh orang yang hadir. Di awal acara, mereka telah menuliskan pesan atau keinginan di sebuah lembar kertas. Pesan cinta di lembar-lembar kertas itulah yang kemudian dihantar secara teatrikal melalui tanah, air, angin, api, dan angkasa oleh Komunitas Teater Bali. Seluruhnya adalah elemen, seniman-seniman yang tampil lebih berfungsi sebagai pengikat alur pertunjukan.

Selain pertunjukan yang disuguhkan di panggung utama, Satukan Cinta untuk Dunia dilengkapi juga dengan performing art oleh Komunitas Teater Bali. Mereka mencoba bereaksi terhadap ruang, waktu, suara, dan cahaya dengan gerak serta interaksi dialogis. Art Director, I Gusti Dibal Ranuh, berupaya mengisi “kekosongan” dengan merespon seluruh unsur pembentuk kesemestaan. Tubuh-tubuh bergerak dan baris puisi pun dilafalkan serupa mantra. Tak hanya itu, pembacaan puisi karya Cok Sawitri -yang saat itu menjadi narator, oleh anak-anak dari Lembaga Pendidikan Nihon-go Honshuu Jugyoukou dan Puri Agung Dharma Giri Utama memperkaya pertunjukan, menjadikannya sebuah suguhan yang kaya, utuh, dan padu.

Ladrina Bagan: Penjelajahan Kreativitas Tiga Kota

LADRINA Bagan, lahir pada tanggal 31 Januari 1990 di Palangka Raya, Kalimantan Tengah, dengan nama Leyla Adrianti Hermina Bagan. Lahir sebagai buah cinta pasangan Akhmad Johansyah Bagan dan Yenny Pranoto, sejak kecil ia telah dibiasakan bersentuhan dengan dunia seni. Ladrina kecil bernyanyi dan menulis, mengekspresikan setiap apa pun yang terjadi di sekelilingnya.

Beranjak dewasa, Ladrina mulai serius bermusik bersama enam perempuan kreatif The Jumping Balloons di Purwekerto di usia 17 tahun. Dengan mengusung konsep indepop vintage, ia berhasil mencuri perhatian publik dengan karakternya yang riang, bahkan terkesan centil.

Bersama The Jumping Balloons, Ladrina mulai menciptakan lagu. Keterbatasannya memainkan alat musik tak menjadi hambatan bagi mahasiswi Fakultas Hukum di Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto ini untuk berkarya. Sebagian besar karyanya tercipta secara spontan, dan mengalir. Ia membiarkan seluruhnya berjalan apa adanya sebagai bentuk penghormatan atas budaya proses, melebur dalam maha seni kehidupan.

Berbagai peristiwa ditangkap dan diterjemahkan Ladrina dalam karya-karyanya: tentang mitos sore hari, tentang putri, tentang cinta, tentang karya, tentang hidup. Ketertarikan dan kemampuannya menulis memudahkan Ladrina menciptakan syair lagu yang kuat dan sederhana. Ia menjelajah keluasan kata dalam penciptaan lirik sehingga karya-karyanya lebih sublim, menjadi milik siapa saja.

Penjelajahan kreatif bermusik dilakukan Ladrina saat membentuk Innerva di tahun 2008. Bersama salah seorang temannya, Kirey, yang kuliah di ISI Yogjakarta, ia mulai memainkan musik bernafaskan ethnic-electrik-shoegaze, aliran musik yang sangat disukainya. Jarak Purwokerto-Yogjakarta tidaklah menghalangi mereka dalam peleburan kreativitas.

Beberapa karya pun terekam dan mulai mengisi ruang-ruang dengar publik. Single pertama Innerva berjudul Child & Evil menjadi pintu awal pertemuannya dengan Lutphi yang kemudian bekerja sama dengannya di Something el. Kembali ia membuktikan bahwa jarak bukanlah dinding pembatas yang menyekat peleburan kreativitas.

Pertemuan Ladrina dan Lutphi yang dimediasi jejaring sosial seperti facebook dan yahoo massanger akhinya menumbuhkan kesepakatan kreatif untuk bekerja sama dalam musik. Meski awalnya Lutphi bersikeras untuk menggarap solo album untuk Ladrina, toh akhirnya ia sepakat membentuk Something El dengan format simple acoustic.

Kehidupan senantiasa mengalir, bergerak tanpa rencana. Berkreativitas di tiga band di tiga kota yang berbeda: The Jumping Balloons (Purwokerto), Innerva (Yogjakarta-Purwokerto), dan Something El (Jakarta-Purwokerto), sempat menumbuhkan pesimisme dalam diri Ladrina Bagan untuk menjalani proses kreatifnya.

Bersama Lutphi di Something El, Ladrina Bagan belajar berproses lebih sistematis dan terencana, bersama-sama melebur ide kreatif dan kemampuan maksimum menjadi sebuah racikan dalam takaran dinamik yang tepat dan segar.

Melalui rilisan perdana Something El berjudul Tragically Romantic yang bermaterikan sebelas lagu dengan komposisi dalam Bahasa Indonesia dan Inggris, Ladrina mencoba menapak dan berpetualang di samudra show-biz yang luas.

Ekspresif
Sebagai seorang yang kreatif dan ekspresif, keinginan Ladrina untuk melakukan eksplorasi seni tidaklah bisa dibendung. Di tahun 2010, di sela-sela persiapan launching album Something el, tawaran menggarap album solo diraih perempuan berdarah Dayak-Jawa ini dengan mengutamakan kebebasan berekspresi, sekaligus menawarkan kebebasan publik untuk memilih dan menikmati setiap karyanya.

Seperti penjelajahan ruh yang tak berbatas, Ladrina –yang menempatkan Adele, Inggrid Michaelson, Corrine Bailey Rae, dan Ayu Laksmi sebagai sosok inspiratif– menggali musikalitas dengan menyajikan delapan lagu yang akan menjadi materi solo albumnya. Dengan mengabaikan “kesakralan” sebuah genre, ia mencoba menjajal kemampuannya dengan menyanyikan lagu-lagu pop, blues, gloomy, acoustic, metal, dan lain-lain dalam album tanpa identitas ini.

Ladrina Bagan, hidup demikian sederhana dan indah. Letupan-letupan emosi dan imajinasinya tidak hanya dituangkan ke dalam musik, melainkan juga lewat sastra, lukisan, film pendek, hingga fotografi, yang dikreasikan dengan artistik dan kreatif. Kehidupan Ladrina yang disandarkan pada aktivitas berkesenian telah mendekatkan dirinya kepada apa saja. Sensitivitas dan kepedulian terhadap kemanusiaan pun melabuhkannya menjadi Manager Kasus HIV, menjadi pendamping dan konselor bagi para penderita HIV/AIDS.

Kesenian memang senantiasa mengajarkan kesederhanaan dan kerendahan hati. Dengan kerendahan hati pula, di usia yang relatif muda, ia berusaha mengembalikan setiap apa pun yang didapatkannya dari kehidupan, bagi kehidupan.

Tragically Romantic Something El: Cinta dalam Secangkir Kopi

CINTA merupakan rasa paling purba dalam kehidupan manusia. Ia hadir dan mengalir, sebagai sebentuk energi yang menguatkan sekaligus melemahkan, membuka kesadaran sekaligus membutakannya. Definisi cinta seperti inilah yang diterjemahkan Something El dalam album perdananya, Tragically Romantic, yang diluncurkan di Newseum, Jakarta, beberapa waktu lalu.

Tragically Romantic berisikan 11 kisah sederhana tentang cinta berbahasa Indonesia dan Inggris. Tema yang relatif “ringan” ini justru menjadikan karya-karya Something El menjadi lebih sublim, karena memiliki kedekatan history dengan siapa saja. Dalam hal ini, Something El yang digawangi Lutphi Alman dan Ladrina Bagan, dapat dikatakan cukup cerdas dalam memandang realitas yang terjadi di sekitar, sekaligus mengolahnya dalam ramuan musik yang sederhana, segar, namun tak lepas dari latar belakang kisah yang mendasari proses penciptaan karya.

Cinta itu ajaib, dan seringkali tak terduga. Banyak hal bisa terjadi ketika diliputi rasa cinta. Bahkan tak jarang, cinta yang dirasakan tak sejalan dengan realitas yang tengah dihadapi. Begitu banyak aturan dan dinding-dinding yang menyekat sebuah kisah cinta. Pertanyaan-pertanyaan tentang cinta seringkali menghinggapi benak setiap insan. Salah satu lagu Something El berjudul Adakah yang Salah yang sekaligus menjadi single Tragically Romantic berupaya menerjemahkan realitas tersebut.

adakah yang salah dengan cintaku
adakah yang salah dengan rasaku
aku suka dia, dia pun juga
tapi tak boleh bersama

Atau simak pula dalam lagu Love’d. Keajaiban cinta nampak pada lagu berbahasa Inggris yang mengisahkan tentang seorang anak mencintai calon ayah tirinya sendiri. Meski masih terbilang tabu, hal-hal seperti ini sebenarnya tengah dan telah terjadi dalam masyarakat.

yes, i know tomorrow
i should call you daddy
coz my mom loves you
and you will marry her
but oh daddy i really in love with you
when i say i'm in love that is you
i'm in love with you

Kesederhanaan lirik menjadi salah satu kekuatan Something El. Mereka berusaha mendekatkan diri dengan para pendengarnya, “mengulas” realitas dengan bahasa yang ringan, takaran musik simple akustik yang sederhana nan segar, sehingga tak perlu mengernyitkan kening untuk lebih memahami maknanya.

Jika dicermati dari lagu, lirik, dan garapan musikalitasnya, Something El berhasil membebaskan diri dari godaan meng-indah-indahkan sebuah karya. Karena pada prinsipnya, sebuah karya yang baik adalah buah daya tanpa upaya melakukan pengingkaran-pengingkaran atas keberadaannya. Dalam konteks ini adalah, bagaimana keikhlasan untuk membiarkan karya-karya yang tercipta tetap terjaga utuh, dengan mengabaikan selera mayoritas pasar sehingga tidak terjebak dalam industrialisasi yang kini tengah berlangsung dalam dunia industri musik Indonesia.

Ladrina Bagan (vocal), mengatakan cinta dalam karya Something El merupakan sebuah perpaduan yang dapat dikatakan sempurna, dengan racikan yang tepat pula segar. Jika bisa diibaratkan, kisah cinta dalam Tragically Romantic Something El merupakan kombinasi rasa sempurna dalam secangkir kopi: sedikit pahit, namun diminati dan tetap mampu dinikmati setiap saat. Ia merupakan harmonisasi perbedaan yang saling bersinergi sehingga menghasilkan “rasa” yang diinginkan, tergantung kepiawaian dalam menempatkan, meramu dan menerjemahkan setiap rasa yang ada.

Sementara Lutphi Alman (gitar/kibord) berkeyakinan, setiap musik memiliki penikmatnya tersendiri. Ia pun tak ragu meramu musik sesuka hati, menuangkan idealisme dan rasa yang muncul ketika pembuatan lagu maupun saat proses rekaman berlangsung, dengan membuka diri meleburnya setiap genre musik yang ada dalam karya-karya Something El.

Jegog Jazz; Representasi Multikulturalisme Jembrana

Dalam sejarahnya, gamelan jegog diciptakan oleh Kiang Geliduh dari Tegal Ngoneng, Jembrana, yang diperkirakan sekitar tahun 1912. Namun ketika itu, selain menggunakan bilah-bilah kayu, Kiang Geliduh juga belum menciptakan gending (komposisi). Akhirnya sekitar tahun 1930-an, Pan Loka dari Desa Kaliakah, Negara, mulai menciptakan gending jegog dan mengganti bilah kayu dengan bambu. Pada tahun-tahun itu, wilayah Jembrana sebagian besar masih berupa hutan lebat dan menjadi daerah “buangan”. Orang-orang buangan dalam konteks ini tidaklah selalu berkonotasi negatif, tetapi bisa juga diterjemahkan sebagai orang pintar atau sakti, bahkan melebihi rajanya sendiri sehingga mengasingkan dirinya. Atau barangkali, mereka adalah orang-orang yang sengaja “membuang” dirinya dengan berbagai alasan, misalnya kemiskinan.

Berdasarkan realitas yang terjadi di masa lalu, dapatlah diterima jika laku hidup yang dijalankan orang Jembrana telah membentuk karakteristik masyarakatnya hingga sekarang. Sebagian besar orang Jembrana pun terkenal sebagai kelompok masyarakat yang keras, tangkas, bersemangat, dan temperamental, baik secara fisik maupun psikis. Budaya persaingan sebagai laku hidup orang Jembrana sangatlah beralasan mengingat kerasnya kehidupan yang dijalankan. Kisah “orang-orang terbuang” ini menegaskan bahwa karakter orang Jembrana merupakan endapan dari karakter orang-orang yang dicap “pembangkang”, “penentang”, “pembelot” dan “pemberontak”.

Kondisi sosio-geografis seperti inilah yang nampaknya memberi karakter pada jegog. Ia lepas dari ikatan patron-klien, ratu-panjak (raja-rakyat), sebagaimana yang terjadi di daerah lain di Bali. Karena itu, jegog memiliki watak egaliter; tidak pelog dan tidak pula slendro. Ia seolah anak lain dari kultur Bali yang secara stereotip selalu dianggap memiliki watak adiluhung dan mengandung filosofi tinggi.

Barangkali, jegog lebih dekat dengan ekspresi rakyat yang pada tataran praktis telah bersentuhan langsung dengan apa yang disebut multikulturalisme. Ia lahir sebagai pengakuan dan perayaan terhadap kemerdekaan dari belenggu relasi-relasi struktural yang seringkali menyertai kesenian-kesenian tradisi di Bali.

Mendiang I Nyoman Lila yang melakukan revitalisasi jegog awal tahun 1970-an, pernah mengatakan bahwa jegog merupakan jiwa orang Jembrana. Dengan kata lain, semangat orang Jembrana yang heterogen tertanam dalam bilah-bilah bambu besar bernama jegog. Ini semakin menegaskan bahwa jegog telah menjadi produk persilangan kultur yang disertai dengan kesadaran akan pentingnya menghormati perbedaan. Jegog tak sekedar pola gaul masyarakat Jembrana, tetapi telah menjadi cerminan kehidupan sehari-hari yang sesungguhnya.

Jegog Jazz
Bahwa jegog telah berhasil menjadi semacam identitas masyarakat Jembrana yang plural, memang benar adanya. Maka komunikasi eksternal sebagai bagian dari strategi pencitraan, harus dilakukan untuk lebih memperkenalkan musik tradisional tersebut. Kesempatan pertama datang dari Bentara Budaya Bali yang berkeinginan menampilkan jegog jazz di dalam acara grand opening (4/11) di tempat yang akan diarahkan menjadi pusat kebudayaan, sebagai representasi dari kehidupan multikultur masyarakat secara luas, khususnya di Jembrana.

Seperti telah disinggung di atas, dari segi musikalitas, jegog merupakan instrumen yang cukup unik. Jika pada umumnya musik Bali atau musik-musik tradisi menggunakan titi laras pelog atau selendro, jegog justru berada di antara keduanya. Suara jegog adalah nada dari alam gaib. Bunyi-bunyi yang dihasilkan merupakan keresahan udara yang terperangkap di dalam bilah-bilah bambu, yang akhirnya terbebas setelah mendapat tekanan (dipukul). Barangkali ini juga bisa menjadi cerminan laku hidup masyarakatnya yang termarginalkan. Ya, mungkin ini bisa dijadikan gambaran kehidupan sisi Bali yang lain.

Jika dicermati, sesungguhnya jegog dan jazz saling bertalian. Jegog dan jazz sama-sama memiliki dasar improvasi sehingga memungkinkan lahirnya senyawa baru diantara keduanya. Dengan kata lain, jegog dan jazz sama-sama memiliki celah untuk saling mengisi. Komposer Jegog Jazz, Nanoq da Kansas, menegaskan yang terpenting sekarang adalah bagaimana menciptakan sebuah dinamika untuk memberi kesempatan masing-masing agar bisa bermain lebih maksimal. Ini tak lepas dari keinginan untuk menunjukkan bahwa jegog sebagai kesenian khas Jembrana layak disandingkan dan disejajarkan dengan genre musik modern (jazz). Dalam garapan ini pula, ada beberapa nama musisi yang telah berkarya di tingkat nasional dan internasional yang akan terlibat dalam komposisi ini, seperti Dewa Budjana, Balawan dan Ayu Laksmi.

Ayu Laksmi-Svara Semesta: Memersatukan Keberagaman Lewat Suara

Ketika agama, suku bangsa, bahasa, maupun berbagai keberagaman masih menimbulkan pergesekan-pergesekan, maka suaralah yang akan menyatukan. Suara sebagai karya pertama Sang Pencipta yang dimiliki semua mahluk hidup (sarwa prani) mengingatkan akan kesamaan dasar secara substansial alasan sebuah kelahiran. Bahwa, setiap mahluk yang dilahirkan atau diciptakan memiliki fungsi dan perannya masing-masing dalam semesta kehidupan.

Di sinilah Svara Semesta –komposisi karya-karya Ayu Laksmi menjadi penting. Apa yang dipresentasikan dalam Svara Semesta merupakan simbol-simbol lembut yang memberi motivasi dan menggugah kesadaran akan perbedaan. Kesadaran akan desa, kala, patra, kesadaran untuk mempersatukan anak-anak semesta. Bukan lewat agama, melainkan penyatuan melalui spiritualisme. Merekatkan anak-anak semesta, ketika bencana demi bencana, peperangan, dan kekuasaan begitu memerihkan hidup. Melakukan doa untuk semesta, doa untuk masa ini, dan kelahiran nanti.

“Karya-karya dalam Svara Semesta merupakan penerjemahan kelembutan rasa melalui pertalian perasaan-perasaan estetika yang menyatukan getaran hati melalui suara keindahan. Ia akan membawa, mendirikan atau menghidupkan kembali sesuatu yang pernah ada. Mengembalikannya ke tempat semula, posisi yang sesungguhnya. Menyegarkan atau mempertemukan kembali sesuatu yang pernah hilang,” tutur Ayu Laksmi.

Svara Semesta bukanlah album rohani meski tak dapat dipungkiri bernafaskan spiritualisme. Kearifan lokal yang menjadi ruh setiap karya Laksmi secara sadar dikelola untuk membuka ruang bagi pesan-pesan cinta kasih kepada sesama manusia, semesta, dan Sang Pencipta yang sengaja ditanam Laksmi di dalamnya.
                                            
“Pada akhirnya, suaralah yang akan mempersatukan. Suara tak terkekang bahasa, sehingga bisa diterima seluruh lapisan dengan berbagai latar belakang budaya, suku bangsa, warna kulit, dan bahasa yang berbeda,” demikian Laksmi.

Svara Semesta: Refleksi Kehidupan Ayu Laksmi

Musik dalam kesejatiannya hadir dan mengalir sebagai cermin kebebasan nurani. Serupa doa yang lahir dari keheningan interaksi dialogis terhadap apa saja, ia menjadi bentuk persembahan dan pengagungan. Demikian kesadaran yang menyusup keheningan jiwa Ayu Laksmi. Lewat lagu-lagunya yang terangkum dalam album Svara Semesta, ia memosisikan dirinya sebagai objek atas kompleksitas pergulatan kehidupan manusia.

Album Svara Semesta yang dilaunching di Bentara Budaya Jakarta bermaterikan 11 lagu, dimana sebagian besar merupakan karya yang lahir dari kegelisahannya sendiri. Inilah jawaban atas “menghilangnya” Laksmi dari dunia industri musik Indonesia selama hampir 18 tahun, sesaat setelah album pertamanya Istana yang Hilang dilempar dan tak laku di pasaran.

Kembalinya Laksmi dalam dunia hiburan tentu menjadi sesuatu yang menarik. Kini tak mungkin lagi menemukan dirinya dalam balutan kostum serba hitam dalam karakter seorang rocker. Kehidupan telah merubahnya menjadi sesosok yang anggun, dengan gerai busana putih dan bertelanjang kaki; cermin keinginannya menyatu dengan bumi.

Seperti diakuinya, Laksmi seolah menemukan titik balik karir bernyanyi di tahun 2004. Ia mulai menyadari bahwa kearifan lokal yang dikandung tanah leluhurnya (Bali) begitu kaya dan merupakan sumber inspirasi yang demikian besar. Kidung sakral sebagai warisan leluhur akhirnya dipilih dalam balutan world music. Budayawan Taufiq Rahzen melihat hal ini sebagai keinginan menghadirkan kembali sesuatu yang “lama” menjadi “baru”. Pernyataan ini berdasar setelah mendengar komposisi Wirama Totaka berbahasa Jawa Kuno yang dikutip dari Kakawin Arjuna Wiwaha berusia ratusan tahun: lantunan doa Arjuna kepada Siva, yang dengan berani disuguhkan Laksmi secara kontemporer.

Svara Semesta bisa diibaratkan sebuah cermin yang memantulkan gambaran perjalanan hidup Laskmi, yang memiliki keterkaitan satu sama lain. Ia hadir sebagai penyampai pesan positif, tanpa keinginan dan kesan menggurui.

Ayu Laksmi adalah seseorang penuh impian. Hal ini bisa dilihat dalam lirik lagu Maha Asa ciptaannya yang berbahasa Jawa Kuno, tentang mimpi yang menjadi nyata:
duk rika ingsun ajerih manyupena
rasayang tan sida ikang manadi katon
temangkin ingsun rumasuk manadi indera sariranta
temangkin sun masuwak ri atmanta
Seorang pemimpi yang berhasil adalah bilamana ia mampu menerjemahkan secara kreatif dan inovatif sebuah impian menjadi sesuatu yang nyata. Karena pada prinsipnya semua orang adalah pemimpi tak terduga, maka disinilah dibutuhkan semacam “aturan” yang mengarahkan mimpi itu menjadi energi positif, tanpa menimbulkan ketersinggungan dan pergesekan di dalam kehidupan sosial.

Dalam hal ini, Tri Kaya Parisudha yang merupakan kearifan lokal Bali menjadi benteng: sebuah konstruksi yang kukuh dan tertutup sebagai pertahanan. Laksmi pun berusaha memaparkannya dengan lebih gamblang dalam lagunya dengan judul yang sama.

Seperti masyarakat Bali lainnya, Laksmi juga meyakini pengembaraan roh sebelum reinkarnasi: kehidupan setelah kematian yang ditandai dengan kelahiran kembali sebagai “sesuatu” dengan hitam putih perilaku yang melekat dalam kehidupan sebelumnya. Dibantu Dayu Ani untuk penulisan lirik, lagu Reinkarnasi dibangun dari diksi sederhana namun membentangkan keluasan makna, kemudian diterjemahkan secara musikalitas dalam dimensi perayaan.

Pejalan jauh
Nominator pemeran utama wanita terbaik FFI 2008 lewat film Under the Tree arahan Garin Nugroho ini bisa dikatakan sebagai pejalan jauh. Ia mengembara, melakukan penjelajahan hidup dengan riang getir yang menyertainya. Di suatu titik, ia merindukan sosok Ibu sebagai rumah segala doa dan kasih sayang. Sumber telaga jernih yang tak pernah meminta, tetapi menyajikan begitu saja hamparan cinta yang tak berbatas. Ini bisa disimak dalam penggalan liriknya; Ibu kau malaikat hidupku, menjaga sejak langkah kecilku.

Lagu dengan latar belakang yang sama juga bisa ditemukan dalam Duh Hyang Ratih. Perbedaan yang mengada diantara keduanya dapat dibenturkan dalam sebuah persamaan: kerinduan akan keindahan, kasih sayang, cinta, hingga keikhlasan memberi tanpa pamrih; perilaku yang sudah menjadi sangat langka dalam dimensi sosial masyarakat kekinian.

Saat ini, kehidupan bergerak cepat dan keras, serta mengikis kesadaran seseorang sebagai bagian kehidupan sosial. Laksmi melihat fenomena tersebut sebagai seseorang yang hidup tanpa nafas. Seluruhnya berpacu dengan waktu dalam suatu proses “menjadi” hingga mengabaikan arti kebersamaan yang mesti dijaga dan terjaga.

Dalam realitasnya, benturan-benturan yang terjadi dalam proses untuk “menjadi” ini tidaklah menghadirkan kebahagiaan hakiki. “Mari jeda sejenak. Berikan nafas pada kehidupan. Seluruhnya adalah nafas. Hanya nafas….” Demikian renungan Laksmi yang tercetak pada booklet Svara Semesta pada lagu Breathing. Petikan gitar Riwin Tropical Transit dan alunan sendu flute Bang Saat membuat lagu ini semakin menyiratkan keprihatinan sebagai sebuah kisah yang menyesap senyap.

Begitu kerasnya kehidupan yang tercipta akibat kompleksitas pemikiran. Bahkan dalam I Am Talking to My Self, Laksmi seolah mengajak kembali setiap orang menyapa dan berbincang dengan ruhnya sendiri. Ia menyajikan lagu ini bukan dalam bahasa yang ada di permukaan bumi, melainkan ekspresi yang hadir dalam proses kreatifnya. Walaupun akhirnya terdengar seperti bahasa, apa yang ia sajikan adalah kumpulan bunyi yang tak mempunyai arti. Bahkan, sebagian orang yang mendengar mengatakan menjadi serupa mantra.

Berbagai kemungkinan yang ditawarkan dalam lagu ini bisa jadi merupakan pembuktian Laksmi atas kekuatan bunyi yang mengundang multi tafsir bagi para pendengar. Namun jika ditelisik lewat musikalitas yang ditawarkan, setidaknya dapat menggiring pemikiran bahwa terjadi pergulatan yang tak biasa dalam diri Laksmi untuk mencapai klimaks sebagai dasar pijak dalam langkah. Pergulatan batin dalam semesta kecil (hati, tubuh) ini juga mencerminkan pergulatan yang terjadi di luaran yang tengah berlangsung, hingga bermuara pada sikap kebersamaan dalam keberagaman, seperti yang digambarkan lagu Tat Twam Asi karya Agung Cahyadi, sahabatnya, serta Brothers & Sisters – Adi & Ida.

Diantara seluruh lagu yang diciptakan dan dinyanyikannya tersebut, puncak renungan spiritualitas Laksmi berada pada lagu Here, Now, and Forever More – Om Mani Padme Hum. Om Mani Padme Hum yang merupakan Budhist Mantra ini sendiri (konon) mampu memekarkan padma hati bagi siapa pun yang melafalkannya.

Dalam album Svara Semesta yang terbagi menjadi dua ruang yakni ruang budaya dan teknologi serta ruang manusia ini, Laksmi total berkarya mandiri. Ia menjadi produser, menulis hampir seluruh lagu, bahkan menciptakan komposisi musik dasar di awal proses penciptaan dengan segala keterbatasan musikal yang dimiliknya. Ia juga menunjukkan berbagai gaya olah vocal; kadang terdengar serak-serak basah dengan wilayah vocal sangat rendah yang tak lazim dimiliki perempuan, kadang terdengar halus melengking dengan cengkok kontemporer khas dirinya.

Dikawal Eko Wicaksono sebagai music director dan arranger, ia juga didukung arranger lainnya yakni Dewa Budjana, Peter Brambl dan Robert Webber, serta melibatkan banyak musisi diantaranya Dewa Budjana, Riwin, Balawan, Koko Harsoe, Erick Sondhy, Roby Zoel, Bang Saat, dan Nyanyian Dharma. Laksmi menyajikan lagu-lagunya dalam lima bahasa, terdiri dari Bahasa Sansekerta, Kawi, Bali, Indonesia, dan Inggris, dimana sebagian besar karyanya berlandaskan konsep Tri Hita Karana, bercerita tentang hubungan cinta kasih antara manusia dengan manusia, manusia dengan semesta, manusia dengan Tuhan.

Ziarah Ayu Laksmi

Sinar yang ditembakkan melalui LCD projector pada selembar kain putih melahirkan siluet. Diiringi instrumen world music dan senandung tembang Maha Asa, sepasang tubuh meliuk di atas panggung. Perlahan, kain putih itu tersingkap. Ayu Laksmi dan penari kontemporer Made Tegeh Okta, pasangan penari itu, terlihat sempurna. Tak lagi menjadi bayangan.

Apa yang mereka tampilkan secara teaterikal menjadi refleksi sebuah perjalanan hidup Laksmi, bahkan dapat menjadi cermin banyak orang. Selama ini, Laksmi seringkali bermimpi tentang keindahan yang menjadi nyata, tentang beberapa tokoh seni yang telah lama ia kagumi, yang akhirnya menjadi bagian dan menyatu dalam hidupnya.

“Kini mimpi itu menjadi nyata. Yang lebih mencengangkan, mereka menyertakan maha karya mereka dalam album ini. Saya benar-benar bersyukur. Dua karya itu menjadi penggambaran serta perwujudan Maha Asa. Jadi sekarang bisa saya katakan, kita bisa bermimpi apa pun yang ingin kita impikan, dan kita bisa bermimpi menjadi apa pun yang kita inginkan,” kata Laksmi saat soft launching albumnya yang bertajuk Svara Semesta, Sabtu (25/9) malam di kediaman keluarga besarnya di Singaraja.

Bagi penyanyi kelahiran Singaraja, 25 November 1967 tersebut, musik bukanlah sekedar media penghibur. Ia menempatkannya pada posisi yang agung sebagai persembahan melalui daya penciptaan dan keikhlasan menyerap kekayaan nilai yang terkandung dalam semesta kehidupan.

Kreativitas dan daya cipta Laksmi yang mengambil elemen budaya dan tradisi nusantara yang kemudian diterjemahkannya lewat Svara Semesta menjadi bagian dari doanya. Kidung sebagai warisan leluhur dan musik populer pun dipilih sebagai wahana kontemplasi. Di dalam karyanya, ia mencoba merefleksikan hidup dan kehidupan, dengan muara akhir penyerahan diri kepada Tuhan. Maka dapatlah diterima jika di dalamnya terjadi benturan demi benturan. Sebuah kekuatan sekaligus kelemahan, cinta kasih sekaligus kebencian, kesenangan sekaligus kesedihan. Musiknya kadang rancak, kemudian di satu titik menjadi syahdu dan nyaris senyap. Seluruhnya berbaur, menyatu padu, hingga mencipta harmoni. “Apa yang saya persembahkan dalam album merupakan gabungan berbagai perasaan dengan kekosongan batiniah yang menjadi konsep dasar seluruh proses penciptaan,” tegasnya.

Betapa sulitnya mendobrak musik pop dan melayu yang kini mendominasi blantika musik di tanah air disadari betul oleh Laksmi. Kendati demikian, kondisi tersebut tidaklah membuat dirinya berkecil hati. Besarnya optimisme Laksmi atas lagu dan musik yang ditawarkannya tentu sangat beralasan, apalagi saat ini panggung-panggung seni budaya semakin diminati masyarakat luas.

“Seperti yang sudah saya tegaskan, yang utama adalah Svara Semesta didedikasikan sebagai suatu persembahan. Selain itu, dukungan yang tak pernah putus diberikan, baik dari keluarga, teman-teman, hingga masyarakat yang pernah menyaksikan performance saya menjadi kekuatan yang mendorong untuk mewujudkan album ini. Dan saya yakin, setiap apa pun yang mengisi semesta, termasuk world music yang saya tampilkan, memiliki tempat dan jalannya masing-masing,” ucapnya.

Dua ruang
Svara Semesta, jelasnya, dibagi menjadi dua ruang, yakni ruang teknologi dan ruang manusia. Ruang teknologi didominasi cerita tentang pengagungan Tuhan dan semesta dengan gaya ungkap kidung kontemporer dalam Bahasa Sansekerta, Jawa Kuno, dan Bali yang terinspirasi dari kekawin sebagai warisan budaya leluhur yang sarat filosofi. Untuk menyeimbangkan tema dan bahasa yang terkesan berat, ia sendiri menyajikan komposisi musik dalam ruang tersebut dalam balutan nu sound technology.

“Sementara ruang manusia lebih banyak mengisahkan tentang lahir, hidup dan mati, yang dimainkan manusia-manusia sesungguhnya. Saya percaya, kepekaan rasa manusia tidaklah dapat tergantikan meskipun teknologi telah cukup berhasil memainkan perannya dalam dunia modern. Dalam ruang ini, saya berbagi dengan para sahabat, musisi-musisi yang berempati terhadap kegelisahan saya untuk berkarya,” jelas Laksmi yang pernah meluncurkan album Istana yang Hilang di tahun 1991 saat masih mengusung aliran classic rock.

Dalam setiap pertunjukannya, Laksmi identik dengan teratai dan dupa yang memunculkan nuansa magis. Karakter ini sangat jauh dari kesan garang yang sebelumnya melekat pada dirinya ketika menjadi lady rocker di tahun 1980-an. Kini ia “terlahir” kembali menjadi dewi dalam balutan busana putih berpadu poleng (motif hitam putih), dengan langkah anggun dan lantunan kidung kontemporer khasnya sendiri yang diterjemahkan dari berbagai ajaran universal.

Pilihan Laksmi untuk lahir kembali tentu bukan keputusan yang mudah. Ia harus menanggalkan seluruhnya, meninggalkan dunia yang justru telah membesarkan namanya. “Bali selalu memanggil saya untuk kembali. Karena itu saya berusaha menjalani sesuatu apa adanya. Hidup itu mengalir sehingga saya memilih mengalir di dalamnya. Menjalani apa yang memang menjadi bagian diri saya. Ya, saya juga memerlukan jeda waktu. Kemudian saya mulai bergabung dengan beberapa musisi, seperti bersama Tropical Transit dan Dewa Budjana dalam Nyanyian Dharma. Tapi kini, saya sudah punya kendaraan sendiri, mengemudikannya sendiri, berupa album Svara Semesta. Untuk lirik, saya banyak dibantu oleh para penulis hebat seperti Sugi Lanus, Cok Sawitri, Adrian T. King, dan Robyn Cash,” ucapnya.

Sebagai seorang perempuan, Laksmi termasuk perempuan yang tangguh. Kegagalan demi kegagalan serta riang getir perjalanan hidupnya menjadi guru terbaik baginya. Ketangguhan Laksmi tidaklah bisa dipisahkan dari Singaraja sebagai tanah kelahirannya. Karakteristik masyarakat Singaraja yang keras, kompetitif, tangguh, dan budaya tandingannya telah menyatu dalam dirinya, membentuk Laksmi menjadi pribadi yang kuat dan pantang menyerah.

Ziarah
Bukanlah tanpa alasan jika Laksmi memilih menggelar soft launching albumnya di rumah keluarga besarnya sendiri. Langkah Kecil, Langkah Besar Berawal dari Rumah yang menjadi konsep soft launching tersebut menjadi gambaran keinginan Laksmi untuk menziarahi masa lalunya. Rumah merupakan awal kelahiran doa-doa sebelum menapak perjalanan panjang kehidupan. Dengan demikian, dapatlah dipahami jika Laksmi menginginkan setiap langkah yang dilakukannya disaksikan para leluhur, dan direstui keluarga tercinta.

“Tak ada doa yang lebih mulia selain doa dari keluarga, doa orang-orang yang dituakan. Doa-doa yang tanpa henti mengaliri seluruh kujur tubuh saya. Rumah bagi saya merupakan pusat dunia, pusat semesta kehidupan saya. Saya melibatkan seluruh keluarga, seperti Ayu Weda, Ayu Partiwi, serta Arya Wirawan yang saya mohonkan sebagai MC,” ucap Laksmi seraya menambahkan sengaja memilih menggelar acara tersebut bertepatan dengan Hari Suci Sarasvati sebagai bentuk apresiasi terhadap anugerah pengetahuan, seni, dan sastra.

Apa yang disampaikan Laksmi merupakan bentuk penghormatannya terhadap sejarah panjang hidupnya, seluruh keluarga, dan orang-orang yang memberi pengaruh dalam kehidupan serta karir bermusiknya. Ia merindukan rumah setelah puluhan tahun malang-melintang dalam dunia musik yang menjadi pilihan hidupnya. Kembali pulang dengan memohon doa, dukungan, dan restu dipercaya Laksmi sebagai salah satu kekuatan yang akan menyempurnakan persembahan melalui komposisi musiknya tersebut. Ia meyakini hal itu, seperti juga keyakinannya bahwa sejatinya cinta yang dikirimkan melalui doa yang dialamatkan kepadanya tidaklah pernah putus dan selalu menyertai setiap perjalanannya.

“Saya juga sengaja menghadirkan kuliner khas Singaraja seperti siobak dan blayag di sini sebagai bentuk penghormatan penghormatan terhadap kekayaan lokal Singaraja. Saya hanya ingin mengawali saja, melalui hal-hal kecil dan sederhana sesuai kemampuan saya. Saya harapkan ke depan terdapat lebih banyak kantung budaya di Singaraja, yang bisa muncul ke permukaan,” tukas Laksmi, yang juga dihadiri para seniman dan budayawan, serta tokoh-tokoh Singaraja yang telah muncul ke permukaan.

Dalam soft launching tersebut, Laksmi menembangkan delapan dari sebelas lagu yang terangkum dalam Svara Semesta, yakni Maha Asa, Tri Kaya Parisudha, Ibu, Brothers and Sisters, Breathing, Wirama Totaka, Om Mani Padme Hum, dan Reinkarnasi. Selain itu, ekspresi estetika pertunjukan melibatkan Made Tegeh Okta dan Dayu Ani (tari kontemporer), Sanggar Santhi Budaya (tari rejang), Cok Sawitri (bondres), dan musisi muda berbakat dari berbagai daerah di nusantara. Sementara untuk menerjemahkan musikalitas, delapan dari sebelas lagu yang terangkum dalam Svara Semesta dipercayakan kepada Eko Wicaksono, seorang music director muda berbakat yang berdomisili di Bali.

Menikmati Keheningan Spiritualitas di Tengah Keramaian Sanur: Ayu Laksmi Persembahkan Maha Asa

Party concept yang menjadi bagian kecil kemasan Sanur Village Festival (SVF) 2010 menciptakan keramaian dan keriuhan. Namun di sela-sela itu, keheningan tiba-tiba menyelinap, menyusup relung-relung jiwa setiap audience yang hadir dalam pembukaan SVF 2010, Rabu (4/8). Kehadiran penyanyi Ayu Laksmi dengan lantunan kidung kontemporernya yang diiringi Balawan and Batuan Ethnic Fusion berhasil menciptakan keheningan spiritualitas di tengah keramaian tersebut.

Malam itu, Ayu Laksmi kembali berhasil memindahkan nilai-nilai spiritualitas ke atas panggung pertunjukan. Ia membawa hampir seluruh audience larut ke dalam dimensi yang diciptakannya melalui Wirama Totaka dan Maha Asa, dua buah komposisi lagu karyanya sendiri. Meski dua lirik lagu tersebut menggunakan Bahasa Kawi, ini tidaklah menjadi kendala bagi audience untuk menikmati sekaligus menghayati nilai-nilai yang terkandung dalam lagu-lagu tersebut. “Musik memiliki bahasanya sendiri,” tutur Laksmi.

Sebagai performer, Laksmi memang pandai memainkan emosi. Gerak teaterikal sebagai representasi lagu yang dilantunkan seringkali melarutkan audience di dalam setiap pertunjukannya. Ia pun terlihat metaksu, dengan teratai dan dupa yang selalu menjadi bagian performance-nya.

“Saya suka aroma dupa. Asap dupa yang membumbung seolah menjadi media saksi atas berlangsungnya sebuah upacara. Bagi saya, upacara adalah perwujudan bakti yang dipersembahkan kepada Tuhan, apa pun bentuknya, termasuk melalui musik yang selama ini menjadi persembahan saya,” ucap Laksmi.

Lantas bagaimana dengan teratai? Bagi Laksmi, teratai merupakan bunga yang universal dan sarat nilai. Masyarakat Mesir Kuno menggunakan bentuk teratai sebagai matahari terbit. Di India, teratai diposisikan sebagai perlambang kecantikan jiwa. Dalam ajaran Buddha menegaskan, proses mekarnya bunga teratai melambangkan kebijaksanaan. Di Hindu sendiri, teratai merupakan lambang kemurnian.

“Teratai yang mengapung rata di permukaan air tak pernah kotor sekalipun tumbuh di air keruh. Bunga yang muncul dari dalam air itu tetap bersih, segar, dan indah. Keindahannya pun terjangkau oleh siapa pun, dari yang paling rendah sampai yang paling tinggi. Walaupun teratai bukan bunga yang harum semerbak, ia mampu memberikan keindahan bagi siapa saja,” jelas Laksmi.

Dalam kesempatan yang sama, Laksmi juga menembangkan Maha Asa, satu dari sekian lagu dalam komposisi album Svara Semesta yang rencananya akan diluncurkan pada September mendatang. Selama ini, seringkali ia bermimpi sesuatu yang sangat indah dan penuh pengharapan. Begitu indahnya, Laksmi sering didera ketakutan dan berusaha menepis mimpi-mimpi itu, mencemaskan mimpi itu datang lagi.

“Entahlah, saya merasa mimpi itu terlalu indah dan tidak akan tercapai. Tetapi kemudian saya memposisikan mimpi itu sebagai pertanda. Saya berusaha menerjemahkan dan mengisinya dengan energi baru. Begitulah, kini impian itu bukanlah sekedar mimpi. Ia hadir lebih dari sekedar dream come true,” tukasnya.

Merinding
Beberapa audience yang ditemui mengatakan, mereka larut dalam keheningan spiritual yang diciptakan Laksmi. Bagus Mantra, produser musik beberapa band di Bali, mengaku hanyut dalam suasana magis yang muncul dalam performance Laksmi. “Saya merinding menyaksikannya,” akunya. Robin Cash, jurnalis sebuah media Australia yang selalu menyempatkan dirinya datang dari Australia untuk menyaksikan performance Laksmi juga merasakan hal yang sama. “Ketika Laksmi tampil di stage, saya merasa seluruh indera dari ujung rambut sampai ujung kaki bergetar, seperti ada yang mengaliri seluruh diri saya,” ucapnya.

Garin Nugroho, sutradara film, bahkan rela jauh-jauh datang langsung dari Jakarta untuk menyaksikan Laksmi tampil pada pembukaan SVF 2010. Audience lainnya, Ketut Sudiana, mengatakan apa yang ditampilkan Laksmi seolah menjadi puncak pembukaan SVF 2010. Aroma kemenyan yang tercium dari sekitar panggung pertunjukan semakin menambah magis suasana malam itu. “Ayu Laksmi sangat cerdas membangun suasana. Aksinya teaterikal dengan bunga, dupa, dan efek-efek suara dari alat musik yang dimainkannya menyatu menjadi satu kesatuan yang utuh untuk membangun sinergi. Mungkin disanalah letak kekuatan Ayu Laksmi,” katanya.

Sementara Raden Sirait, seorang designer yang karya-karya busananya sempat digunakan Ratu Belanda dan Michelle Obama, merinding menyaksikan pertunjukan tersebut dan langsung menuju belakang panggung untuk menjumpai Laksmi. Ia mengaku sangat menyukai keseluruhan komposisi pertunjukan tersebut.

“Komposisi yang ditunjukkan Ayu Laksmi sangat mewakili perempuan Indonesia. Ke depan, saya juga berencana membuat special design untuknya, dengan dominasi putih yang dipadu kain poleng (hitam putih motif kotak-kotak),” tukasnya.

Di malam berikutnya, Laksmi juga tampil bersama Nyanyian Dharma menembangkan karyanya, Tri Kaya Parisudha. Serupa dengan malam sebelumnya, ia kembali memunculkan keheningan spiritual bersama Tri Utami, Gus Wicak, Manik, dan Anggi, dan penari Nyoman Sura.

Ayu Laksmi dalam Sanur Village Festival: Bersama Balawan and Batuan Ethnic Fusion dan Nyanyian Dharma

Berdasarkan sejarah masa lalu, Sanur menjadi tempat para pendamba kedamaian yang berharap sinar suci Tuhan. Ini tidaklah terlepas dari aura spiritual yang terpancar demikian kuat, yang bersumber dari orang-orang suci yang (sempat) singgah di sana. Konon, di masa lalu, denting genta dan doa selalu bergema dari wilayah Sanur, hingga merambat ke relung-relung jiwa.

Aura yang memancar di Sanur inilah yang selalu membawa kerinduan Ayu Laksmi untuk sesekali datang ke sana. Meskipun bukan berasal dari Sanur, ia merasa intim dengan suasana alamnya, dengan keberadaan pohon-pohon besar yang masih terjaga. Sanur seolah selalu memanggilnya untuk kembali, untuk menziarahi masa lalu yang merupakan pusat pencarian dan penempaan spiritualitas. “Sinar matahari, bagi saya, adalah kesucian itu sendiri. Karena itu saya percaya, tempat dimana matahari terbit merupakan kawasan yang diselimuti aura putih, suci, dan bersih,” katanya.

Sanur dan masyarakatnya berkembang dengan mengedepankan spiritual dan upacara. Sebagaimana masyarakat Bali kebanyakan, setiap laku hidup masyarakat Sanur merupakan sebuah perayaan terhadap kehidupan, yang mana didalamnya menghasilkan produk seni budaya yang masih demikian kuat mengakar hingga sekarang.

“Mengingat Sanur merupakan salah satu destinasi pariwisata dunia, tentu kita harus memberi apresisasi positif bagaimana upaya masyarakatnya menjaga kesenian tradisi agar tetap mengada di tengah gempuran budaya asing. Salah satu yang mereka lakukan adalah menyelenggarakan Sanur Village Festival. Mudah-mudahan Sanur tetap seperti ini, tetap menjadi desa budaya internasional,” ucap Laksmi.

Laksmi sendiri dijadwalkan pentas dalam event tahunan yang mulai diselenggarakan sejak tahun 2006 silam tersebut pada 4 dan 5 Agustus. Ia akan tampil sebagai performer tunggal pada pembukaan event, yang “dikawal” oleh Magic Finger Balawan and Batuan Ethnic Fusion. Jika merunut ke belakang, ini pertama kalinya Laksmi tampil sebagai performer tunggal, mewakili dirinya sendiri. Sebelumnya, ia selalu tampil bersama Tropical Transit, band legendaris dari Bali.

“Dalam event kali ini, saya juga bernyanyi bersama Nyanyian Dharma tanggal 5 Agustus. Jadi pada pembukaan saya main, besoknya main lain. Mudah-mudahan penontonnya gak bosan dengar Ayu Laksmi magending (bernyanyi), hahahaaa….,” katanya.

Tahun 2010 ini merupakan kali kelima Laksmi perform dalam Sanur Village Festival. Dengan demikian, ini berarti ia selalu didaulat untuk mengisi event yang tahun ini mengangkat tema “Saha Nuhur”, yang mengandung makna permohonan bersama kepada Tuhan Yang Maha Esa untuk mendapatkan sinar suci (nuhur atau nur) yang menjadi spirit dari berbagai aspek kehidupan masyarakat setempat.

Ketua Umum Panitia, Ida Bagus Sidharta Putra, mengatakan keberadaan event tersebut merupakan sebuah penegasan jika pihaknya memiliki komitmen untuk tetap mempertahankan warisan seni dan budaya. “Kegiatan komersial di Sanur selalu diiringi dengan berbagai upaya untuk menjaga kelestarian lingkungan seperti yang dilakukan para pendahulu,” tutur pria yang akrab disapa Gus De.

Salah satu upaya pelestarian lingkungan yang dimaksud Gus De adalah keberadaan pohon intaran atau mimba atau neem (azadirachta indica) yang banyak tumbuh di wilayah Sanur. Seluruh bagian pohon tersebut bermanfaat bagi manusia. Nilai historis pohon intaran ini akan diangkat dan dikombinasikan dengan sejarah Sanur, yang sampai saat ini diabadikan menjadi nama kawasan desa wisata ini.

“Ini menjadi bukti kedekatan pohon intaran dengan Sanur. Program lingkungan ‘go green’ yang sempat diusung tahun lalu sangat erat kaitannya dengan program penanaman pohon intaran. Pohon ini pula akan dijadikan ikon Sanur yang ikut memberikan spirit dan harmoni antara alam, manusia, dan Sang Pencipta seperti filosofi Tri Hita Karana,” katanya.

Sementara untuk pertama kalinya, festival seni budaya masyarakat Sanur yang dijadwalkan berlangsung pada 4-8 Agustus mendatang akan menampilkan “The Art Kampoeng” atau kampung seni, yang menghadirkan suasana kehidupan masyarakat setempat pada tempo dulu. Suasana masa lalu itu akan dihadirkan pada area khusus, yang menampilkan berbagai kegiatan, yang didesain menjadi tempat berkumpulnya para seniman.

“Di sana mereka akan dapat berinteraksi serta menikmati karya seni rupa kontemporer di luar lingkungan galeri atau ruang pamer konvensional,” demikian Gus De.

Wirama Totaka, Penjelajahan Spiritualitas Ayu Laksmi

Banyak yang percaya, spiritualitas merupakan wilayah yang sungguh absurd. Sebuah ruang tak bernama, dimana didalamnya terjadi hubungan dan pertalian yang erat antara keterbatasan manusia dengan kemahakuasaan Sang Pencipta. Melalui Wirama Totaka, Ayu Laksmi, penyanyi yang mengabdikan dirinya dengan menembangkan lagu-lagu dengan spirit pengagungan terhadap Tuhan, berusaha menjelajah ruang itu.

“Berbagai cara bisa dilakukan sebagai wujud bhakti dan persembahan kepada Tuhan. Kalau saya, lebih memilih musik kontemporer sebagai wahana kontemplasi dengan menyerap spirit yang menjadi kearifan lokal, budaya dan tradisi. Ya, ini tak lepas dari basic saya sebagai penyanyi,” tuturnya usai pentas bersama Balawan and Batuan Ethnic Fusion, Rabu (7/7) malam, di Gedung Ksirarnawa, Art Center.

Lirik Wirama Totaka yang diambil dari Kekawin Arjuna Wiwaha menyiratkan pentingnya menciptakan jeda dalam kehidupan dalam keheningan dan kekosongan, melalui yoga dan semadi. Dalam kekosongan itulah, seseorang baru mampu melihat segala hal dengan jernih. Disadari atau tidak, manusia hanya bisa saling menyalahkan, tapi Tuhan akan selalu membenarkan apa yang seharusnya benar. Begitulah sifat Tuhan yang tidak pernah bisa dibayangkan.

“Seperti yang tersirat dalam Wirama Totaka, saya pun meyakini jika Tuhan hanya akan terlihat dalam jiwa orang-orang yang melaksanakan yoga dan semadi. Tentu ini bukan hanya sebatas pengertian harafiah saja. Lebih dari itu, yang terpenting adalah mengosongkan diri. Ini serupa (bayangan) bulan yang terpantul dan tercermin dalam air jernih dalam tempayan,” ucapnya. Lalu, sudahkah Ayu mencapai titik itu? “Belum, hahaaa….,” tambahnya disertai tawa ringan.

Diiringi Balawan and Batuan Ethnic Fusion, Wirama Totaka cukup berhasil menghadirkan energi yang tak biasa. Sinergi antara keduanya sangatlah jarang ditemukan, mengingat keduanya sama-sama menjadi ikon untuk musik kontemporer bernafaskan seni budaya. Namun demikian, ketika dipertemukan, mereka sama-sama memahami dan mendukung menciptakan harmoni. Dapatkah audience memahami makna dan nilai yang terkandung dalam Wirama Totaka mengingat liriknya masih menggunakan Bahasa Kawi?

Bagi Ayu, musik merupakan bahasa yang paling universal. Keinginan untuk menyampaikan sesuatu, bahkan sesuatu yang paling pribadi yang bersemayam dalam dasar hati pun bisa terwakili dengan susunan bunyi. Lalu, eksplorasi tubuh bisa digunakan mendukungnya. Kondisi ini tercermin pula dengan keberadaan penari Nyoman Sura yang semakin menyempurnakan penampilan malam itu, dengan berusaha menginterprestasikan Wirama Totaka.

“Musik dan bahasa tubuh mampu menyusup keheningan jiwa, menyapa setiap ruh yang mengada dalam diri kita. Tak hanya sekedar berkata-kata,” tegasnya, yang saat itu juga menyanyikan Tri Kaya Parisudha karyanya sendiri, yang menjadi salah satu lagu dalam Album Nyanyian Dharma.

Beberapa penonton yang ditemui mengaku tidak mengerti apa yang disampaikan Ayu Laksmi dalam lirik lagunya. Namun demikian, sebagian besar dari mereka berhasil menangkap dan memahami esensi lagu tersebut. Apalagi mengawali pementasannya, ia menggiring penonton untuk memejamkan mata, mendengarkan dan meresapi dalam hening, sembari berkisah tentang inti Wirama Totaka.

“Kalau ditanyakan artinya, jujur saya gak ngerti. Itu Bahasa Kawi, bahasa yang sangat sulit. Tapi dalam performance-nya, sedikit tidaknya saya paham jika lagu itu mengandung pesan-pesan kebajikan. Saya hanya bisa merasakannya, dan itu jauh lebih baik dari sekedar memahami arti liriknya saja. Tadi itu adalah pertunjukan yang luar biasa. Ayu Laksmi telah menjelajah wilayah spiritualitas,” demikian Anggreni, salah seorang penonton.
 
Diberdayakan oleh Blogger.